Over Exposed



**Over Exposed**


Eh bener gak ya itu nulisnya?


Wkwkwkw, maklum atulah buku dan kamus bahasa Inggris udah ratusan purnama gak disentuh.


Emmmm, tiba-tiba aja sih pengen nulis tentang ini, tentang Expose atau menampakan diri kita di medsos dengan berlebihan.


Sebenernya ini refleksi juga, jangan-jangan akulah orang yang mengekspos diri berlebihan di medsos selama ini, dan bikin orang yang baca eneg, mual, kunang-kunang dan kejang-kejang, heuuu maapkeeuunnn yaaaa.



Jadi awal mula pengen nulis ini tuh begini. Dulu, waktu punya anak pertama dan facebook baru booming, rasa-rasanya berasa dalam fase yang ingin segala 'kebaikan' itu terekspos di medsos, terutama tentang anak.

Misalkan, anak lagi makan sayur, padahal mah cuman gigit sekali, sisanya nasi disembur-sembur, hahaa. Trus aku foto dan upload di sosmed dan tadaaa ternyata ada yang komen, "waahh hebat yaaa anaknya suka makan sayurrr."


Padahal itu yang difoto cuman sepersekian detik dari kehidupan "normal" setiap hari. Iya bener hanya sepersekian detik aja, yang kita upload, seakan hidup jadi sempurna, ketika ada yang like atau komentar.


Trus, cerita tentang anak yang bisa ini itu, cerita tentang tips bikin mainan anak, cerita tentang kedekatan sama anak, cerita tentang kesenangan jadi ibu. Biasanya yang baik-baik aja yang diupload di sosmed, padahal di balik layarnya mah, rumah berantakan, emosi labil, badan sakit semua, kelelahan sampe bad mood, dll.


Semua itu ga pernah diungkap di sosmed ya, yang diceritain mah yang baik-baiknya doang.


Nah, di sisi lain. Aku pernah di sisi suka cerita hal-hal seperti itu di sosmed, tapi di sisi satunya aku pun kadang suka kesel sama orang yang berlebihan menceritakan dirinya di sosial media.


Bingung kan? Di sisi lain pelaku, di sisi lain merasa jadi korban.


Apalagi sekarang sering cerita-cerita di blog, ada yang nanya via email, dm IG, WA, tentang apa yang aku ceritain di blog.


Jujur sih, kumerasa dilema. Karena kadang, pembaca blog itu merasa kita tau segalanya. Padahal mah itu cuma sepenggal cerita aja, dan itu tadi, banyaknya yang diceritain yang baik-baiknya doang kan, hahaha, pencitraan oh pencitraan kalau kata orang.


Seperti yang kubilang sebelumnya, kadang kumerasa kesal dengan orang yang terlalu cerita tentang kebaikan dirinya, walau pun sesungguhnya harusnya yang kutengok adalah hatiku sendiri, jangan-jangan diriku ini dengki?


Dan malah kadang tersindir sama status orang (yang padahal mah bukan buat kita) pede benerrr setiap status orang buat kita semua, hahaha.


Aduh ni tulisan kok muter-muter.


Tapi intinya begini deh, kalau kita gak mau "risih" dengan cerita orang yang berlebihan di sosial media, ada baiknya kita juga gak melakukan hal yang sama.


Kadang medsos bikin salah paham, dari pada kita disalahpahamin orang, mending kita jaga duluan jempol kita.


"Kira-kira kalau ngomong atau cerita begini ada yang tersinggung atau nggak ya, ada yang risih atau nggak ya."


Emang sih, batas toleransi di sosmed itu blur banget, "yah kan aku gak maksud buruk, aku cuman mau berbagi cerita aja, sukur-sukur menginspirasi."


Iya sih, tapi kembali lagi ke hati, yang kita ceritain ini lebih baik jadi konsumsi publik atau konsumsi pribadi aja?


Gak semua hal yang indah-indah harus diupload di sosial media, apalagi kalau kita tau ada teman yang "tidak seberuntung" kita yang membaca setiap curahan hati kita yang menggebu-gebu itu.


Walau kita gak maksud buruk, dari pada ribut atau rusak silaturahim, ya mending kita tahan diri aja.


Dan catatan penting buat diri sendiri adalah: Hati-hati juga, sombong atau riya itu kan gak keliatan, bagai semut hitam di tempat gelap. Alih-alih mau menginspirasi malah menyakiti hati.


Makanya sekarang-sekarang mau mulai mengalihkan rasa syukur dari wall facebook dan lainnya ke tempat yang lain aja. Lewat jalan beramal soleh misalnya atau lewat do'a sehabis sholat.


Lelah kalau semua cerita hidup dituang semua ke sosial media, pas ngaca maluuuuu. Apalagi kalau nanti Allah cabut nikmat tersebut dari diri kita, hayooo.


Jadi inget cerita Rasulullah SAW yang selalu menyuapi seorang Yahudi yang buta, yang suka mencerca dan menghina Rasulullah SAW. Dan Rasulullah SAW selowwww aja gitu tetep nyuapin tanpa harus mengekpos diri berlebihan, toh biarlah Allah SWT yang menilai.


Ya Alloh, indah bener emang kalau inget cerita Rasulullah SAW itu.


Yo wes lah, udah sekian dan terima kasih, maap-maap kalau selama ini medsosku bikin sakit mata.


Mari saling mendo'akan untuk kita semua, karena hadiah yang paling indah adalah do'a kita bagi sesama saudara disela-sela sujud kepadaNya.




**Salam Damai bersosial media**

Tidak ada komentar

Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga kita selalu menjadi ibu yang bahagia :)